Simulasi Strategi Reksadana Saham

Memenuhi janji saya di posting sebelumnya,  kali ini akan mencoba membuat simulasi strategi reksadana saham dengan data IHSG sebagai acuan. Alasan saya menggunakan data IHSG dan bukannya data NAB, karena reksadana saham portofolionya 80 – 98 % adalah saham (equitas).  Jadi bisa dipastikan harga NAB reksadana saham notabene hampir sama dengan IHSG, jika IHSG turun maka NAB biasanya akan turun dan begitu juga sebaliknya.

Sebelumnya kita telah mengenal Strategi Buy and Exit dan Buy and switch. Buy and exit adalah strategi membeli reksadana saham ketika harga akan bergerak naik dengan harapan akan menjualnya kembali ketika harga reksadana akan turun. Sedangkan Buy and switch akan membeli ketika harga akan bergerak naik dan ketika harga akan bergerak turun reksadana kita switch reksadana saham kita ke produk reksadana yang rendah resikonya, yaitu bisa Reksadana pendapatan tetap (RDPT) atau Reksadana pendapatan Uang (RDPU). 

Sekarang kita akan mencoba bersimulasi dengan data IHSG yang Real. Mungkin yang akan menjadi pertanyaan, adalah bagaimana kita tahu bahwa harga akan bergerak naik atau turun ? Biasanya orang akan menggunakan analisa teknikal untuk menganalisis harga. Analisa teknikal adalah cara untuk memprediksikan arah harga di masa depan dengan cara melihat perilaku harga di masa lalu.

Salah satu analisa teknikal yang terkenal yaitu Moving Average. Moving average atau dalam bahasa indonesia berarti rata-rata bergerak yaitu suatu cara mencari nilai dengan memberikan rataan, dan menggunakannya untuk memprediksi nilai untuk periode waktu yang akan datang. Moving average mempunyai tiga varian yang berbeda yaitu Simple Moving Average, Weighted Moving Average dan Exponential Moving Average. Masing-masing merupakan metode rata-rata bergerak, hanya saja cara me-rata-ratakannya yang berbeda satu sama lain.

Dalam kasus Kali ini kita akan menggunakan simple moving average (SMA). Untuk melihat bagaimana SMA itu bekerja mari kita lihat uraian di bawah ini,

jika saya punya data 5,6,7,8,9,10 maka perhitungan mencari SMA dengan 3 dan 5 periode adalah

  • Sma 3 Periode = 5+6+7/3 = 6
  • sma 5 periode = 5+6+7+8+9/5=7

Cukup mudah bukan ? Cari mencari nilai sma adalah dengan menambahkan data tersebut kemudian di bagi dengan jumah periodenya. Untuk memprediksikan harga dimasa datang tentu saja kita tidak harus mengumpulkan data sebelumnya kemudian menghitung secara manual seperti cara diatas. Kita tinggal menggunakan tool yang sudah banyak tersedia di internet, salah satu contohnya dari finance yahoo.

Lebih jelasnya silahkan buka www.finance.yahoo.com pilih indikator dengan kode JKSE di kolom search Get Quote, kode ini merupakan kode untuk IHSG jakarta di BEJ (bursa efek jakarta). Lihat gambar bawah.

Kita ambil data tahun 2010 dari januari sampai dengan september dengan time periode 1 tahun (pilih yang 1 y).  Maka muncul grafik berikut.

Kemudian kita menggunakan  indikator sma dengan periode 10.  Dengan cara klik technikal indikator kemudian pilih simple moving average (sma). Disini dapat kita lihat bahwa apabila harga bergerak naik, garis SMA yang berwana merah berada dibawah dari grafik IHSG (biru) dan sebaliknya bila harga bergerak turun maka garis SMA berada diatas grafik IHSG. Tentu saja penerapan periode yang tepat amat membantu disini. Apabila terjadi perpotongan antara garis IHSG dengan SMA, dapat kita ketahui bahwa akan terjadi perubahan arah trend. Lihat gambar di bawah

Sekarang kita akan mencoba menggunakan dua sma dengan dua periode yang berbeda. untuk time periode pertama kita menggunakan time periode 20 sedangkan untuk sma ke dua menggunakan time periode 5. maka akan muncul gambar seperti ini.

Dari grafik diatas maka harga akan bergerak naik ketika garis sma dengan periode yang lebih pendek  (sma 5) warna merah akan memotong garis sma dengan periode yang lebih panjang (sma 20) warna hijau dari arah bawah dan harga akan bergerak turun jika garis sma periode yang lebih pendek (sma 5) akan memotong garis sma yang lebih panjang (sma 20) dari arah atas.

Dari gambar di atas terjadi beberapa perpotongan garis antara sma 5  dengan sma 20. Pertama di  point 2.610 yang menunjukan tren turun kemudian perpotongan kedua terjadi di point 2.564 yang menunjukan trend akan naik.  Kemudian perpotongan terjadi di point 2.846 yang menunjukan trend akan turun dan di point 2.733 tren kembali  naik.

Kembali ke awal, kita akan bersimulasi dengan menggunakan uang 1.000.000 sebagai modal awal. Di awal bulan januari IHSG sebesar 2.400, dengan asumsi harga NAB sama dengan IHSG maka jika simulasikan unit NAB yang kita miliki adalah 1.000.000/2400 atau 416  lembar unit NAB.

Jika kita menggunakan metode Lumpsump atau menaruh dana diawal kemudian di tarik lagi di bulan september ketika IHSG berada di posisi 3600. maka keuntungan yang kita dapat adalah 416 * 3600 = 1.497.600 atau keuntungan sebesar 49%.

Sekarang  kita akan mencoba simulasi dengan menggunakan indikator sma untuk menentukan sinyal Exit dan sinyal Entry. Modal yang digunakan adalah 1.000.000, NAB yang dapat kita beli sebanyak 416.

Perhatikan gambar di atas terjadi  perpotongan di titik 2.610 yang menunjukan untuk sinyal exit karena tren akan turun maka kita akan keluar di posisi tersebut sehingga nilai rupiah kita adalah 416*2.610=1.085.760, kemudian kita masuk lagi di harga NAB 2.564 sehingga unit yang kita miliki adalah 1.085.760/2.564 = 423 (dibulatkan dengan 2 digit belakang) NAB.  Kemudian di point 2.846 menunjukan sinyal exit, Kita redeem reksadana kita sehingga uang yang kita dapatkan sebesar 2.846 * 423 =1.203.858.

Selanjutnya perpotongan ke dua di point 2.733, kita masuk lagi sehingga jumlah NAB yang kita punya adalah sebanyak 440.  Maka ketika akhir bulan september maka kita keluar lagi dengan NAB 3.600, keuntungan kita adalah 3.600 * 440 = 1.584.ooo atau kenaikan sebesar 58%. Dengan metode ini kita bisa mengalahkan Manager Investasi (MI).  :) .

Selain exit, arternative lain ketika tren menunjukan turun reksadana saham kita  switch ke reksadana pendapatan tetap (RDPT) atau Reksadana Pendapatan Uang (RDPU)  sehingga nilai investasi kita masih bisa bertambah. Namun perlu dicermati adanya beberapa Manager Investasi (MI) yang mengenakan biaya untuk Redeem atau switch. Saran saya pilihlah Manager Investasi (MI)  yang mengenakan biaya murah atau tidak mengenakan biaya sama sekali untuk Switch maupun untuk redeem. Selain menggunakan  SMA masih ada indikator teknikal lain yang bisa digunakan. Di lain kesempatan saya akan coba mengulasnya.

4 comments

  1. [...] saya akan membahas teknikal analisis di artikel terpisah. Selanjutnya saya mencoba untuk simulasi dengan berbagai macam strategi  reksadana di atas dengan menggunakan data Real menggunakan IHSG [...]

  2. Ray says:

    Ditunggu pak, indikator teknikal lainnya yang bisa dipakai utk reksadana.

  3. Ndaru says:

    bagaimana dengan model Weighted Moving Average dan Exponential Moving Average?
    mohon dishare simulasinya juga..
    thanks pak

  4. nurul says:

    kalau mau ganti periode nya jadi januari 2010 s.d desember 2011 bgaimna??
    saya sudah coba tapi ga bsa mengganti periode itu..

Leave a Reply